Bekali Santri Literasi Pranikah, Kemenag Pacitan Gelar BRUS di Pondok Pesantren Wates
Penulis : Amri Syaifudin
4/9/20261 min read


PACITAN – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan melalui Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam kembali melaksanakan program Bimbingan Perkawinan Pra Nikah bagi Remaja Usia Sekolah (BRUS). Kegiatan kali ini menyasar para santri Pondok Pesantren Wates, Desa Widoro, Kecamatan Pacitan, pada Kamis (09/04/2026).
Sebanyak 40 santriwan dan santriwati mengikuti kegiatan tersebut. Program ini bertujuan memberikan pemahaman awal mengenai kesiapan berkeluarga, pentingnya menjaga usia ideal untuk menikah, serta membangun kesadaran tentang aspek agama, psikologis, dan sosial dalam membentuk keluarga yang harmonis.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Dewan Asatid, Mutongin, S.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya pembekalan ilmu bagi remaja sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Menurutnya, literasi pranikah merupakan langkah strategis dalam membangun generasi yang lebih siap dan bertanggung jawab.
Turut hadir Direktur KMI Pondok Pesantren Wates, Ustadz M. Halim, yang menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program BRUS di lingkungan pesantren. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya wawasan para santri dan menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka.
Penyuluh Agama Islam Kemenag Pacitan, Rojian Nasuha, S.H., bertindak sebagai pemateri utama. Mengusung pendekatan interaktif, Rojian tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga mengajak para santri terlibat dalam diskusi kelompok. Metode ini bertujuan mendorong santri untuk berpikir kritis, bertukar pandangan, serta memahami secara lebih mendalam aspek kesiapan menikah.
“Interaksi antar peserta sangat penting agar mereka bisa saling bertukar pikir dan membangun pemahaman yang lebih matang, baik dari sisi agama maupun mental,” ujar Rojian di sela kegiatan.
Melalui pelaksanaan program BRUS ini, Kemenag Pacitan berharap dapat memperkuat literasi pranikah di kalangan remaja, khususnya para santri. Upaya ini diharapkan mampu berkontribusi dalam menekan angka pernikahan dini serta mewujudkan generasi keluarga yang berkualitas, berdaya, dan berakhlak mulia di masa mendatang.
